Menuju Pengajar yang Giat, Kreatif, dan Inovatif: Refleksi Pengajaran Aljabar dan Trigonometri

Persiapan media pembelajaran penting untuk menunjang tercapainya pembelajaran yang informatif, komunikatif, dan inovatif.

Anung Wicaksono 2 Januari 2020

Foto bersama Aljabar dan Trigonometri

Praktik pengajaran yang akan saya bagikan di sini adalah praktik pengajaran mata kuliah Aljabar dan Trigonometri di kelas B. Pada kesempatan itu praktikan berkesempatan untuk mengikuti perkuliahan dan juga memberi pengajaran seperti halnya mengajar sebagai dosen mata kuliah Aljabar dan Trigonometri dengan dua kali kesempatan pengajaran yang dinilai. Saat itu praktikan memilih untuk mengajarkan materi polinomial, yang secara spesifik mengajarkan karakteristik polinomial dan operasi-operasi polinomial tersebut, seperti pembagian dengan cara bersusun, metode Horner, teorema faktor, dan teorema sisa.

Pertemuan pertama membahas karakteristik bentuk-bentuk polinomial berderajat genap ataupun ganjil. Pada pertemuan ini pengajaran difokuskan agar mahasiswa mampu mensketsa grafik fungsi polinomial dengan derajat ganjil dan derajat genap. Pertemuan kedua mencakup empat metode yang sudah dijelaskan, hal ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat menyelesaikan berbagai permasalahan polinomial.

Perasaan yang praktikan rasakan pada pertemuan pertama dan kedua adalah perasaan canggung atau biasa disebut sebagai grogi. Hal ini terjadi ketika praktikan menghadapi banyak mahasiswa serta ada penilaian yang sedang berlangsung oleh dosen pembimbing praktik. Secara tidak disadari praktikan mengalami perasaan gugup. Perasaan selanjutnya adalah binggung. Praktikan merasakan bingung karena praktikan menginginkan pembelajaran yang sesuai rencana dari praktikan, namun pada kenyataannya selama dua kali pertemuan mengajar kerap kali apa yang sudah praktikan pikirkan dan rencanakan sebagian besarnya tidak terlaksanakan dengan baik. Perasaan praktikan yang terakhir adalah perasaan senang karena proses pembelajaran ini menjadi bagian dari cita-cita praktikan sebagai pendidik. Praktikan sejak perkuliahan selalu menginginkan mengajar mahasiswa.

Pengajar adalah cita-cita praktikan, namun dalam menjalaninya tetap saja ada rasa malas dalam hal mempersiapkan, dalam kata lain memanajemen hal-hal yang terkait dengan pembelajaran. Pembuatan media sebagai pendukung kerap kali praktikan lalaikan. Jika dipikirkan kembali, penggunaan media pada pembelajaran zaman sekarang ini sangat perlu karena mengajarkan matematika saat ini memerlukan gambaran yang konkret.

Seperti yang dikatakan oleh Conway & Clark (2003), pengajar pemula memiliki masalah yang penting dan alami, tetapi pada saat yang bersamaan penting untuk fokus pada masalah diri, sehingga dapat memajukan dan melakukan reflektif aktif, dari hal ini praktikan menyadari bahwa penting untuk mengembangkan diri serta meningkatannya. Praktik pembelajaran ini membuat praktikan berkreasi menggunakan media guna membantu dalam pembelajaran di kelas dan membantu praktikan dalam memberikan pengajaran materi terutama tentang grafik.

Rasa malas yang didapat ketika ingin membuat media dalam pembelajaran lebih cenderung dikarenakan meremehkan bentuk media. Hal ini menjadikan media yang telah dibuat tidak lagi maksimal, kerena ketika kita meremehkan pekerjaan kelak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut akan berantakan sehingga waktu terasa pendek dan dirasa tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Korthagen & Vasalos (2005) mengatakan pentingnya sebuah refleksi dalam mendorong profesionalisme dari seorang guru berdasarkan kesinambungan pengalaman mengajar. Refleksi yang dilakukan guna mengetahui peningkatan dari sebuah pembelajaran yang praktikan berikan di kelas, memang untuk berubah itu suatu hal yang susah namun dengan refleksi, dapat membantu praktikan bercermin sehingga tahu apa yang perlu diperbaiki. Husu (2009) menyatakan “reflective way of thinking requires guidance and support in order to fulfill its learning potential, its possible to help the studying teacher to be more competent and effective by helping them to identify and understand their work and its contradiction”. Praktikan dalam hal ini menerima bantuan dari beberapa pihak termasuk dosen pembimbing dan mahasiswa. Hal ini membuat suatu refleksi membawa dampak yang positif sehingga dalam hal ini praktikan menyadari harus lebih dahulu memikirkan media pembelajaran dan rancangan pembelajaran jauh-jauh hari supaya waktu dalam mempersiapkannya cukup siap.

Praktikan mengakui masih menunda-nunda pekerjaan dan kerap kali meremehkan pekerjaan yang sederhana. Praktikan juga sadar bahwa seharusnya praktikan dapat lebih maksimal dalam membuat media pembelajaran sebagai alat bantu ketika memberikan materi di kelas. Lebih baik lagi jika media yang digunakan terlihat familier dengan yang mahasiswa temui. Pengajar sebagai cita-cita praktikan seharusnya dapat membuat praktikan lebih giat lagi untuk memberikan pengajaran, baik itu dalam ranah formal ataupun nonformal. Sebagai pengajar secara tidak langsung harus siap menjadi seorang yang belajar, karena permasalah yang dihadapi oleh pengajar tidak sebagai benda mati, melainkan benda yang selalu bergerak dan berbeda sehingga pembelajaran yang kurang jelas dapat menimbulkan arti bias bagi peserta didik.

Kedepannya praktikan akan lebih lagi mempersiapkan media pembelajaran sebagai penunjang tercapainya pembelajaran yang informatif, komunikatif, dan inovatif. Praktikan juga merasa perlu untuk memanajemen waktu untuk membuat media dan mempersiapkan pembelajaran, karena selain menjadi pengajar, praktikan juga merasa perlu untuk belajar lebih lanjut dari seorang lainnya. Inti dari paparan refleksi ini adalah praktikan harus lebih lagi banyak latihan dan belajar membuat pembelajaran yang menarik bagi para peserta didik, karena tuntutan dari zaman yang semakin maju membuat matematika sendiri juga perlu dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Anung Wicaksono lahir di Puworejo Jawa Tengah, memiliki hobi bermain gim dan olah raga. Hal yang difavoritkannya adalah menyelesaikan gim bergenre Role Playing Game (RPG), sedangkan yang kurang diminatinya adalah menggambar.

Daftar Pustaka

  1. Conway P. F., & Clark, C. M. (2003). The journey inward and outward: a re-examination of Fuller’s concerns-based model of teacher development. Teaching and Teacher Education, 19(5), 465-482.
    CrossRef   Google Scholar
  2. Husu, J., Toom, A., & Patrikainen, S. (2009). Enhancing student teachers’ reflective skills and thoughtful action. In 13th Biennial Conference of the European Association for Research on Learning and Instruction (EARLI).
    Google Scholar
  3. Korthagen, F., & Vasalos, A. (2005). Levels in reflection: Core reflection as a means to enhance professional growth. Teachers and teaching: theory and practice, 11(1), 47-71.
    CrossRef    Google Scholar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *