Menulis untuk Belajar

Aktivitas menulis bisa menciptakan lingkungan belajar yang kondusif melalui proses penyampaian gagasan, kolaborasi, dan transformasi pengetahuan.

Foto: StockSnap – pixabay.com

Di awal tulisan ini saya mengajak pembaca untuk kembali ke tahun 2012, tahun ketika saya memulai petualangan saya menjadi blogger. Waktu itu, tujuan utama saya blogging adalah untuk mengisi waktu luang serta sebagai aktivitas “pelarian” dari rutinitas penulisan tugas akhir. Lama kelamaan, saya sadar bahwa dengan menulis konten-konten matematika di blog saya (lihat, https://yos3prens.wordpress.com/ ), saya meyakini bahwa saya juga mengalami proses pembelajaran. Dengan kata lain, saya menulis sambil belajar. Saya ingat betul bahwa waktu itu saya dengan “sukarela” mengunjungi perpustakaan universitas untuk mencari materi yang kira-kira cocok ditulis di dalam blog dengan status saya yang sudah alumni dari universitas tersebut.

Berawal dari pengalaman pribadi tersebut, saya kemudian bertanya-tanya, apakah mungkin pengalaman belajar yang saya alami ketika menulis tersebut dapat saya tularkan ke mahasiswa? Ketika pertanyaan ini terlintas, saya jadi teringat pada slogan iklan televisi yang sering muncul beberapa tahun lalu, “buat anak kok coba-coba.” Untuk itu, saya kemudian mulai mencari dan membaca literatur dengan kata kunci “writing to learn” di Google Cendekia. Tidak terkejut ketika saya menemukan banyak literatur yang membahas topik tersebut. Gagasan menulis untuk belajar tersebut sudah menjadi topik perbincangan para cendekiawan dalam beberapa dekade terakhir. Untuk itu, di bagian berikutnya saya akan menuliskan perbincangan-perbincangan seputar ide menulis untuk belajar.

Apa Kata Literatur?

Seperti biasa, ketika saya menemukan topik baru, hal yang pertama saya cari adalah kerangka teoretisnya. Setelah membaca ke sana kemari, ternyata cukup banyak teori yang membahas gagasan menulis untuk belajar (misalnya, Bereiter & Scardamalia, 1987; Hayes, 1996; Hayes & Flower, 1980; Zimmerman & Risemberg, 1997). Teori yang menurut saya paling pas untuk dibahas di sini adalah dua model yang digagas oleh Bereiter dan Scardamalia (1987), model penyampaian pengetahuan dan model transformasi pengetahuan. Menurut model yang pertama, ada tiga hal yang membuat seseorang menulis, yaitu topik, memori jangka panjangnya terhadap topik tersebut, dan teks yang baru saja dia tulis. Misalkan seorang anak ditugasi oleh gurunya untuk membuat tulisan tentang ayahnya, maka dalam tulisannya dia akan menceritakan ayahnya (topik) berdasarkan hal-hal yang dia ketahui (memori jangka panjang). Dalam tulisannya tersebut dia memulai dengan satu kalimat. Kemudian dia membuat kalimat-kalimat berikutnya berdasarkan kalimat-kalimat yang baru saja dia tuliskan. Ilustrasi ini menjelaskan model penyampaian pengetahuan dalam proses penulisan.

Untuk memahami model transformasi pengetahuan, mari kita berhenti sejenak untuk memikirkan pertanyaan berikut: Pernahkah anda tidak puas terhadap tulisan anda dan berusaha untuk memperbaikinya? Jika iya, pasti ada beberapa hal yang membuat anda merevisi tulisan anda. Menurut model transformasi pengetahuan, seseorang merevisi tulisannya karena pertimbangan retorik, komunikatif, dan pragmatis. Dari perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan, penulis melakukan transformasi atau pengolahan kembali terhadap pengetahuan yang telah dimiliki.

Proses transformasi terhadap pengetahuan yang telah dimiliki menunjukkan adanya proses belajar dalam menulis, paling tidak dari sudut pandang kognitif yang bersifat individual. Ketika seseorang secara aktif melakukan akuisisi atau pengorganisasian kembali struktur kognitifnya, maka orang tersebut belajar (Simon, 2001). Berdasarkan pandangan ini, menulis bisa menciptakan proses pembelajaran.

Selain dari aspek individual, menulis untuk belajar bisa dijelaskan dari aspek sosial. Vygotsky (1978) menyatakan bahwa proses pembelajaran terjadi dalam interaksi sosial antar individu. Ide seperti ini mendukung diciptakannya lingkungan belajar melalui kegiatan menulis secara kolaboratif. Dalam penulisan secara kolaboratif, para penulis bersama-sama mendiskusikan apa yang akan mereka tulis dan membagikan rencana dan draf penulisannya kepada penulis lain. Dari kolaborasi ini para penulis melakukan proses pembelajaran melalui interaksi satu sama lain, kemudian menginternalisasi apa yang dipelajari dari proses sosial tersebut ke dalam dirinya masing-masing.

Selain menyebutkan kerangka teoretis, saya juga akan menguraikan bukti-bukti empiris tentang proses pembelajaran dalam kegiatan menulis. Melalui telaah literatur, Bangert-Drowns, Hurley, dan Wilkinson (2004) menemukan bahwa kegiatan menulis berpengaruh positif, tetapi kecil, terhadap hasil belajar. Dalam analisisnya, mereka berargumen bahwa pengaruh menulis tersebut kecil karena dua faktor. Pertama, kelas kontrol (kelas yang dibandingkan dengan kelas menulis untuk belajar) masih dimungkinkan memiliki keuntungan dari kegiatan menulis. Mereka mungkin saja masih menggunakan keterampilan menulisnya, seperti mencatat dan menulis jawaban esai, dalam proses pembelajarannya. Kedua, teknik penilaian yang digunakan untuk mengukur ketercapaian proses pembelajaran kurang tepat, karena pada umumnya teknik penilaian yang digunakan hanya untuk mengukur konten. Penelitian lain (Shepard, 1992) menunjukkan bahwa kegiatan menulis untuk belajar memiliki pengaruh yang besar terhadap hasil belajar jika yang diukur adalah perkembangan struktur konseptualnya.

Berdasarkan pengalaman pribadi yang telah saya ceritakan di bagian paling awal, serta beberapa teori dan bukti-bukti empiris yang telah saya paparkan, maka saya semakin yakin bahwa kegiatan menulis yang dilakukan dengan tepat dapat memfasilitasi seseorang untuk belajar. Oleh karena itu, saya mantap untuk menularkan kenikmatan menulis kepada para mahasiswa dalam beberapa mata kuliah yang saya ampu. Di bagian berikutnya saya akan menceritakan bagaimana kegiatan menulis untuk belajar ini saya implementasikan dalam proses perkuliahan.

Menulis untuk Belajar di Perkuliahan

Di semester yang ketika saya menulis ini baru saja berakhir, saya mengampu empat mata kuliah yang berbeda, yaitu Kalkulus Diferensial, Desain Pembelajaran Matematika SMP, Metode Statistik (dan praktikumnya), serta Statistics for Research di dua program studi yang berbeda. Tiga mata kuliah awal saya ajarkan di Pendidikan Matematika, sisanya saya ajarkan di Pendidikan Bahasa Inggris. Semua mahasiswa dalam mata kuliah tersebut merupakan calon pendidik. Tantangan bagi saya untuk mengajarkan kesemua mata kuliah tersebut, khususnya bidang kajian Statistika bagi mahasiswa bahasa.

Di mata kuliah Kalkulus Diferensial, Metode Statistik, dan Statistics for Research, saya mengemas kegiatan menulis sebagai komponen pembelajaran berbasis proyek. Di dalam mata kuliah Kalkulus Diferensial, saya menugaskan mahasiswa secara berkelompok untuk mengkaji metode Newton Raphson (sebagai contoh lihat, Murwati, Febriani, Hanianto, Putra, Prasetyo, & Indrawati, 2018) dan membuat video presentasi. Di kelas Metode Statistik, saya menugaskan mahasiswa secara berkelompok untuk menggunakan data hasil PISA dan TIMSS untuk membuat rumusan masalah sendiri dan menuliskan temuan dari rumusan masalah tersebut ke dalam sebuah tulisan (lihat, Nuhuyanan, Jamco, Simangunsong, & Setyani, 2018). Di Statistics for Research, saya meminta mahasiswa secara individu untuk melakukan penelitian mini untuk menyelidiki keaktifan laki-laki dan perempuan di media sosial (lihat, Tulak, 2018). Dalam semua proyek tersebut, saya mendampingi proses pengerjaan tugas mahasiswa, baik secara langsung ataupun dengan memanfaatkan diskusi daring asinkron.

Model yang sedikit berbeda saya terapkan di mata kuliah Desain Pembelajaran Matematika SMP. Di mata kuliah ini, saya menugaskan setiap mahasiswa secara individu untuk membuat artikel argumentatif tentang model-model pembelajaran (lihat, Yonanta, 2018). Penugasan ini merupakan bagian dari penugasan yang lebih besar, yaitu penyusunan perangkat pembelajaran matematika SMP. Di semua tugas penulisan yang mahasiswa lakukan, saya membatasi mereka untuk menulis tidak kurang dari 600 kata dan tidak lebih dari 800 kata.

Refleksi dari Refleksi

Di bagian ini saya tidak akan mengulas secara rinci buah penulisan mahasiswa. Akan tetapi saya akan lebih merefleksikan secara singkat kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Berdasarkan hasil refleksi perkuliahan dari mahasiswa, saya menemukan beberapa tema besar terkait tanggapan mahasiswa terhadap kegiatan penulisan. Melalui kegiatan penulisan tersebut, mahasiswa mengakui telah banyak belajar mengenai topik yang mereka bahas. Mereka mengungkapkan bahwa mereka telah “dipaksa” untuk membaca materi-materi yang relevan. Mereka membaca koran, buku, artikel ilmiah, dan sebagainya dan kemudian mensintesisnya ke dalam sebuah artikel. Dari proses bimbingan, mereka juga belajar hal-hal baru yang tidak diajarkan di kuliah. Bahkan, mereka juga menyadari betapa “berdosanya” mereka ketika secara sengaja ataupun tidak melakukan plagiasi terhadap tulisan orang lain. Dari aspek tata bahasa, mereka juga belajar banyak hal. Dengan pembatasan 600 – 800 kata per artikel, mereka berjuang keras untuk menuliskan gagasan-gagasan mereka secara efektif dan efisien. Manfaat dari proses kolaborasi juga mereka rasakan. Mereka mengungkapkan bahwa tugas penulisan artikel telah mengasah keterampilan mereka untuk berorganisasi secara efektif dengan orang lain. Untuk tugas yang bersifat individual, mahasiswa juga mengakui tetap bekerja sama dengan orang lain agar tulisannya semakin lebih baik.

Meskipun banyak manfaat dari proses penulisan, saya juga mengakui ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, di sini saya akan memberikan beberapa saran kepada pembaca agar gagasan menulis untuk belajar bisa dilakukan secara optimal. Pertama, pengenalan plagiasi seharusnya dilakukan sejak dini karena masih banyak mahasiswa yang tidak bisa membedakan mana karya plagiasi dan mana yang bukan. Selain itu, pemberian tugas seharusnya dilakukan dengan durasi waktu yang lebih lama. Dengan demikian, mahasiswa bisa melakukan transformasi pengetahuan secara maksimal, baik melalui proses pembelajaran mandiri, kolaboratif, ataupun secara terbimbing. Untuk menghindari gejala penundaan pekerjaan, mahasiswa juga sebaiknya difasilitasi untuk menuliskan proses kinerjanya, tidak hanya menuliskan produk akhirnya saja (Askeland, 1997). Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa bisa mengembangkan kemampuan metakognitif dan berpikir reflektifnya. Ketika kegiatan menulis untuk belajar dilakukan secara berkelompok, pembagian kelompok sebaiknya dilakukan secara cermat agar sesuai dengan keadaan mahasiswa. Selain itu, pelatihan keterampilan berkolaborasi secara daring dan luring juga penting dilakukan untuk mahasiswa. Saran-saran ini juga berlaku bagi saya agar bisa menciptakan lingkungan belajar yang lebih optimal lagi. Dan di akhir tulisan ini, saya akan mengutip kalimat dari Anaïs Nin, “We write to taste life twice, in the moment and in retrospect.” Dalam konteks ini, retrospeksi yang berbuah proses pembelajaran melalui penyampaian gagasan, kolaborasi, dan transformasi pengetahuan.

Baca artikel ini dalam bentuk PDF 

Daftar Pustaka

  1. Askeland, K. (1997, September). Project organised learning – what is it ‘really’? Makalah dipresentasikan di International Conference on Project Work in University Studies, Roskilde, Denmark.
  2. Bangert-Drowns, R. L., Hurley, M. M., & Wilkinson, B. (2004). The effects of school-based writing-to-learn interventions on academic achievement: A meta-analysis. Review of educational research, 74(1), 29-58. [CrossRef], [Google Scholar], [PDF]
  3. Bereiter, C., & Scardamalia, M. (1987). The psychology of written composition. Hillsdale, NJ: Erlbaum. [Google Scholar]
  4. Hayes, J. (1996). A new framework for understanding cognition and affect in writing. In M. Levy & S. Ransdell (Eds.), The science of writing: Theories, methods, individual differences, and applications (pp. 1–27). Mahwah, NJ: Erlbaum. [Google Scholar]
  5. Hayes, J., & Flower, L. (1980). Identifying the organization of writing processes. In L. Gregg & E. Steinberg (Eds.), Cognitive processes in writing (pp. 3–30). Hillsdale, NJ: Erlbaum. [Google Scholar]
  6. Murwati, S. A., Febriani, E., Hanianto, D. F., Putra, B. B., Prasetyo, N. D., & Indrawati, M. E. (2018, June 09). Kado dari Newton dan Raphson. Diakses 10 Juni 2018, dari http://people.usd.ac.id/~ydkristanto/index.php/2018/06/kado-dari-newton-dan-raphson/
  7. Nuhuyanan, A. T., Jamco, T. H., Simangunsong, L., & Setyani, G. D. (2018, May 25). Pengaruh Internet Terhadap Capaian Pembelajaran Matematika: Bukti dari Asia dan Eropa. Diakses 10 Juni 2018, dari http://people.usd.ac.id/~ydkristanto/index.php/2018/05/internet-dan-matematika-di-asia-dan-eropa/
  8. Shepard, R. G. (1992). Using writing for conceptual development in mathematics instruction. Dissertation Abstracts International, 53(12).
  9. Simon, H. A. (2001). Learning to research about learning. In S. M. Carver and D. Klahr (Eds.), Cognition and instruction. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum.
  10. Tulak, H. B. (2018, May 27). Apakah Perempuan Lebih Aktif di Media Sosial? Diakses 10 Juni 2018, dari http://people.usd.ac.id/~ydkristanto/index.php/2018/05/apakah-perempuan-lebih-aktif-di-media-sosial/
  11. Vygotsky, L.S. (1978). Mind and society: The development oj higher psychological processes. Cambridge, MA: Harward University Press.
  12. Yonanta, B. V. (2018, May 25). Kelas Terbalik untuk Pelajaran Matematika. Diakses 10 Juni 2018, dari http://people.usd.ac.id/~ydkristanto/index.php/2018/05/kelas-terbalik-untuk-pelajaran-matematika/
  13. Zimmerman, B. J., & Risemberg, R. (1997). Becoming a self-regulated writer: A social cognitive perspective. Contemporary educational psychology, 22(1), 73-101. [CrossRef], [PDF]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *