Blog

Belajar dari Contoh Pengerjaan Soal yang Salah Justru Makin Menguntungkan

Analisis pengerjaan soal yang salah dengan bimbingan guru yang secukupnya akan mencegah siswa melakukan kesalahan dalam mengerjakan soal.


Contoh soal merupakan istilah yang sering didengar dalam pembelajaran matematika. Seringkali guru memberikan contoh soal kepada siswanya supaya mereka mendapat gambaran utuh mengenai penerapan teori untuk menyelesaikan soal. Dengan melihat pembahasan contoh soal, siswa akan terbantu karena dapat menduplikasi langsung langkah-langkah untuk mengerjakan soal sejenis lainnya. Dengan cara seperti ini, guru berharap siswanya dapat mengerjakan soal dengan benar setelah melihat contoh-contoh yang benar. Namun, kenyataannya tidak selalu seperti itu. Dengan mengetahui langkah apa saja yang dilakukan untuk menyelesaikan contoh soal, siswa belum tentu memahami sepenuhnya mengapa dan menguasai betul bagaimana proses itu dilakukan. Akibatnya, siswa mengalami kesulitan untuk mengerjakan soal yang berbeda sedikit dalam hal yang diketahui dan ditanya. Solusi atas permasalahan ini adalah guru juga perlu memasukkan kegiatan analisis pengerjaan soal yang salah dalam pembelajaran. Oleh karena itu, artikel ini akan mengulas dua subtopik sebagai alternatif solusi permasalahan ini, yaitu (a) menawarkan empat pertanyaan yang dapat menjadi panduan analisis kesalahan soal yang dapat digunakan siswa beserta manfaatnya; dan (b) mengilustrasikan penerapan metode ini dalam pembelajaran.

Continue reading Belajar dari Contoh Pengerjaan Soal yang Salah Justru Makin Menguntungkan

Video Interaktif dengan Penyematan Pertanyaan: Sebuah Alternatif Metode Belajar Tanpa Tatap Muka

Di tengah pandemi, penggunaan video pembelajaran dengan penyematan pertanyaan berpotensi efektif untuk pengajaran matematika dilihat dari hasil belajar dan keterlibatan siswa.


Sejak diumumkannya kasus pertama COVID-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020 lalu, jumlah kasus positif corona terus bertambah setiap harinya. Istilah social distancing atau pembatasan sosial, yang awalnya terdengar asing, kini semakin akrab. Semua kegiatan yang melibatkan kerumunan orang banyak dihentikan sementara untuk meminimalkan potensi penyebaran virus yang masih belum ditemukan vaksinnya ini. Tentu saja sektor pendidikan juga terkena imbasnya. Kegiatan belajar di sekolah pun turut dihentikan sementara.

Video intisari artikel: https://youtu.be/Fy3dDhDGNlY

Di masa pandemi ini, pembelajaran jarak jauh (distance learning) menjadi pilihan. Semua mata pelajaran disampaikan pada siswa dengan menggunakan bantuan teknologi. Matematika tentu saja tak luput dari hal itu. Padahal, mata pelajaran yang satu ini membutuhkan penjelasan dan pemahaman yang lebih mendalam. Tetapi bukan berarti dengan pembelajaran jarak jauh seperti ini, pengajaran matematika tak bisa seefektif pembelajaran langsung. Banyak pilihan ide-ide pembelajaran yang bisa diterapkan dengan bantuan teknologi, salah satunya adalah dengan menggunakan video pembelajaran.

Continue reading Video Interaktif dengan Penyematan Pertanyaan: Sebuah Alternatif Metode Belajar Tanpa Tatap Muka

Komunikasi Sebagai Kunci Terbangunnya Kolaborasi yang Efektif: Refleksi Penulisan Buku Ajar Matematika

Komunikasi yang baik antar anggota kelompok perlu dilakukan untuk mencapai tujuan bersama.


Saya mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma Angkatan 2018. Di saat menginjak semester empat, saya memilih mata kuliah Penulisan Buku Ajar Matematika sebagai mata kuliah pilihan. Alasan saya memilih mata kuliah ini adalah untuk mengasah kemampuan saya di bidang penulisan dan penyusunan sebuah buku ajar. Harapannya, saya dapat menjadi pendidik mata pelajaran matematika yang sekaligus merangkap sebagai penulis buku ajar mata pelajaran tersebut. Didukung dengan dosen pengampu yang pernah menulis beberapa buku ajar, saya semakin bersemangat mengikuti jejaknya. Teman-teman di mata kuliah tersebut terdiri dari berbagai angkatan, mulai dari angkatan 2016, 2017, dan 2018. Akibatnya, keberagaman tersebut menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif karena ilmu yang dimiliki dapat dibagikan dan didayagunakan secara maksimal.

Dinamika yang kami jalani sangat kompleks, mulai dari menelaah sebuah buku ajar secara individu, mengomunikasikan rancangan buku, bergabung dalam tim-tim kecil untuk mendiskusikan standar-standar acuan penulisan buku, dilanjutkan dengan membentuk kelompok-kelompok yang akan menulis naskah secara utuh. Perkuliahan didominasi oleh dinamika kelompok para penulis naskah tiap bab. Dosen mempersilakan mahasiswanya untuk membentuk kelompok sendiri. Menurut saya, hal ini memberikan efek nyaman saat kami elakukan dinamika kelompok karena sudah saling mengenal satu sama lain antara teman yang dipilih. Dari keputusan itu diharapkan tiap kelompok dapat mengerjakan dengan enjoy dan kinerjanya maksimal. Proses demi proses penulisan dan penelaahan dijalani demi tersusunnya buku yang sesuai berdasarkan acuan yang disepakati.

Continue reading Komunikasi Sebagai Kunci Terbangunnya Kolaborasi yang Efektif: Refleksi Penulisan Buku Ajar Matematika

“Tumben Akhir Kuliahnya Tanpa Lagu, Pak”: Sebuah Refleksi Terhadap Perkuliahan Daring

Perkuliahan daring yang lebih baik perlu diusahakan oleh pendidik dan peserta didik, serta ditopang dengan suasana sosial yang kondusif.


Genap empat pekan perkuliahan daring dilaksanakan. Di pekan keempat ini tepat rasanya jika digunakan untuk melihat kilas balik perkuliahan daring tersebut dan merefleksikannya. Dengan demikian, lubang-lubang yang perlu ditambal dan peluang-peluang yang menjanjikan dapat mulai dipikirkan untuk perbaikan pelaksanaan kuliah-kuliah daring berikutnya. Oleh karena itu, tulisan ini terlebih dahulu akan menceritakan praktik-praktik perkuliahan daring yang telah saya lakukan untuk memberikan konteks ke pembaca, baru kemudian dilanjutkan dengan penyajian evaluasi sebagai pemantik aksi berikutnya.

Continue reading “Tumben Akhir Kuliahnya Tanpa Lagu, Pak”: Sebuah Refleksi Terhadap Perkuliahan Daring

“Kabar Saya Ambyar, Pak!”—Mendengar Suara Mahasiswa Selama Pembelajaran Daring

Aktivitas Desmos bisa digunakan sebagai alat presensi daring kreatif yang memotret keadaan mahasiswa secara interaktif.


Hari masih pagi. Pukul 06.30 tepatnya. Melalu grup WhatsApp (WA), saya mengingatkan mahasiswa bahwa beberapa saat lagi, yakni pukul 07.00, akan dimulai diskusi daring di grup WA kelas mereka. Banyak yang meresponnya. Bahkan sudah ada yang mengatakan keadaannya. “Saya masih belum sarapan, Pak,” misalnya. Saat diskusi pun tiba. Saya memulainya dengan menyapa mahasiswa, memberitahu poin-poin yang akan didiskusikan nantinya, sampai memanggil satu per satu nama mereka. Hampir semua siaga, “Hadir, Pak!” kira-kira begitu suasananya. Tapi itu semua belum cukup rupanya. Karena sedang maraknya penyebaran virus korona, saya juga perlu menanyakan kondisi kesehatan dan perasaan mereka. Bagaimana caranya?

Awalnya, saya menanyakan keadaan mahasiswa melalui grup WA. Tidak dinyana, saya kewalahan mengelolanya. Hampir semua mahasiswa secara simultan membalasnya. “Puji Tuhan sehat, Pak!” “Saya masih sehat dan bersemangat, Pak!” Kebanyakan begitu mereka meresponnya. Bagi saya, mereka masih menjawab seperlunya. Padahal harapan saya, mereka harus menceritakan dengan lepas keadaannya. Saya perlu memutar otak ternyata. Bagaimana cara memenuhi harapan saya?

Continue reading “Kabar Saya Ambyar, Pak!”—Mendengar Suara Mahasiswa Selama Pembelajaran Daring

COVID-19, Merdeka Belajar, dan Pembelajaran Jarak Jauh

Bagaimana merancang pembelajaran jarak jauh yang memerdekakan? Pandangan pengajaran sebagai interaksi antar pelaku pembelajaran akan ditawarkan dalam membangun sistem pembelajaran jarak jauh.


Akibat pandemi COVID-19, banyak sekolah dan perguruan tinggi ditutup. Seperti dalam cuitan UNICEF Amerika Serikat tertanggal 9 Maret di bawah, hampir 300 juta peserta didik terkena dampak penutupan institusi pendidikan tersebut. Beberapa daerah di Indonesia, yaitu Jakarta dan Surakarta, juga telah siap siaga menghadapi COVID-19 dengan menutup sekolah-sekolah di dua daerah tersebut. Beberapa perguruan tinggi di Indonesia juga melakukan kebijakan serupa, misalnya Universitas Indonesia, Universitas Gajah Madha, dan Universitas Negeri Yogyakarta. Kebijakan ini, yang tujuannya tak lain adalah untuk mencegah penyebaran infeksi COVID-19, senada dengan himbauan WHO bahwa semua elemen masyarakat perlu berpartisipasi dalam mencegah dan meminimalkan dampak penyakit tersebut. Akan tetapi, kebijakan tersebut tidak menyurutkan institusi-institusi pendidikan tersebut untuk mengadakan pembelajaran, bukan pembelajaran tatap muka melainkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Tak ayal, peralihan moda pembelajaran dari tatap muka (dan mungkin sebagian sudah menerapkan blended learning) ke pembelajaran jarak jauh akan menimbulkan banyak pertanyaan. Satu dari banyak pertanyaan tersebut mungkin seperti ini, “Bagaimana desain pembelajaran jarak jauh yang efektif?” Pertanyaan inilah yang akan menjadi fokus pembahasan artikel ini. Agar pembahasan tersebut sejalan dengan program merdeka belajar yang dicanangkan oleh Kemdikbud Republik Indonesia, maka pembahasannya akan dikemas sebagai aksi dari call to action program tersebut. Oleh karena itu, penjelasan singkat ide merdeka belajar akan diulas sebagai berikut.

Merdeka Belajar

Ketika pertama kali mendengar istilah ‘merdeka belajar’, saya merasa skeptis. Cita-cita itu terasa terlalu ambisius untuk dilakukan mengingat kondisi pendidikan nasional yang sangat beragam. Kemudian saya berefleksi dan pada akhirnya bertanya kepada diri sendiri, “Bukankah memang dibutuhkan program pendidikan yang ambisius, agar peserta didik (yang memang layak dan perlu menerima pendidikan dengan kualitas terbaik) dapat mempersiapkan masa depan di dunia yang serba berubah ini?” Barangkali dari pemikiran seperti inilah akhirnya semangat inovasi dan budaya belajar menjadi roh dari program merdeka belajar untuk menciptakan peserta didik yang memiliki pola pikir yang senantiasa berkembang (growth mindset).

Bukankah memang dibutuhkan program pendidikan yang ambisius agar peserta didik dapat mempersiapkan masa depan di dunia yang serba berubah ini?

Semangat untuk melakukan inovasi adalah roh pertama program merdeka belajar. Dengan semangat ini, pendidik dituntut untuk mengeksplorasi dan menerapkan berbagai macam teori, pendekatan, dan prinsip desain pembelajaran guna menciptakan lingkungan belajar yang inovatif bagi peserta didiknya. Oleh karena itu, pendidik perlu melakukan refleksi secara terus-menerus terhadap praktik pengajarannya, serta menerapkan dan mengembangkan model-model pembelajaran terkini, seperti flipped classroom, blended learning, dan pembelajaran daring. Selain itu, pendidik juga perlu mengoptimalkan gawai yang telah dimiliki oleh peserta didik, atau yang telah disediakan bagi mereka, untuk menciptakan pembelajaran inovatif, aktif, dan mendalam.

Roh kedua program merdeka belajar adalah budaya belajar. Dalam menyediakan pembelajaran yang berkualitas bagi peserta didiknya, pendidik dituntut untuk senantiasa belajar dari dan dengan pendidik lainnya. Lebih jauh, pendidik juga harus tidak takut untuk menjelajah dan bereksperimen dengan metode-metode pembelajaran yang menjanjikan dan telah terbukti efektivitasnya sebagai upaya untuk memperbaiki praktik pengajarannya. Untuk mewujudkan budaya belajar ini, pendidik perlu untuk terlibat aktif dalam jejaring profesinya, baik lingkup lokal maupun global, serta selalu memperbarui pengetahuannya terkait hasil-hasil penelitian dalam bidang ilmu pendidikan.

Kedua roh merdeka belajar di atas pada dasarnya mengingatkan pendidik pada semangat pengabdiannya, yaitu semangat berinovasi dan belajar secara berkelanjutan untuk mempersiapkan peserta didiknya menghadapi masa depannya. Semangat berinovasi dan belajar inilah yang harus dipegang dalam mendesain dan memfasilitasi pembelajaran bagi peserta didiknya, tidak terkecuali untuk pembelajaran jarak jauh.

Continue reading COVID-19, Merdeka Belajar, dan Pembelajaran Jarak Jauh

Benarkah Mahasiswa Senior Durasi Tidurnya Lebih Sedikit?

Durasi tidur mahasiswa yang paling senior belum tentu lebih sedikit dibandingkan adik-adik tingkatnya.


Pada umumnya setiap individu memanfaatkan waktu pada malam hari untuk beristirahat setelah seharian beraktivitas. Salah satu cara yag digunakan yaitu dengan tidur yang berkualitas. National Sleep Foundation dalam laporan utamanya di Sleep Health Journal menyatakan bahwa durasi tidur yang ideal untuk orang dewasa (18–64 tahun) adalah 7 sampai 9 jam (Perdana, 2017).

Menurut Safitri dan Savitri (2018), tidur dengan durasi yang cukup memberikan banyak manfaat bagi tubuh dan juga otak. Salah satunya yaitu dapat meningkatkan daya ingat seseorang. Saat kurang tidur, tanpa disadari orang akan kesulitan untuk mengingat kembali berbagai hal apalagi detailnya. Tidur berperan penting untuk fungsi kognitif, yakni belajar dan mengingat. Ketika tidur, otak memproses, memperkuat, dan menggabungkan ingatan sepanjang hari. Jika kurang tidur, ingatan-ingatan tersebut tidak bisa disimpan dengan benar dalam otak dan bisa hilang.

Namun, masih banyak orang yang memiliki durasi tidur kurang dari yang semestinya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak mahasiswa yang memiliki durasi tidur yang kurang. Mahasiswa tingkat akhir (senior) biasanya memiliki durasi tidur yang lebih sedikit dibandingkan oleh mahasiswa tingkat awal (junior). Hal tersebut diketahui dari banyaknya keluhan mahasiswa terhadap durasi tidur mereka yang minim. Oleh karena itu, dalam artikel ini kami akan membandingkan durasi tidur mahasiswa tingkat akhir dan mahasiswa-mahasiswa juniornya.

Continue reading Benarkah Mahasiswa Senior Durasi Tidurnya Lebih Sedikit?

Praktik Pengajaran Etnomatematika Sebagai Proses Pendewasaan Diri Menuju Pendidik yang Profesional

Kepercayaan diri penting dikembangkan untuk menjadi pengajar yang profesional.

Nor Annisa 10 Januari 2020


Mata kuliah etnomatematika merupakan mata kuliah yang saya pilih dalam menjalani kegiatan praktik pembelajaran matematika. Saya memilih mata kuliah etnomatematika karena mata kuliah ini sudah pernah saya pelajari di perkuliahan S2 pendidikan matematika Universitas Sanata Dharma (USD) semester satu sehingga saya memiliki gambaran bagaimana dinamika perkuliahan mata kuliah tersebut. Alasan lainnya, saya ingin tahu bagaimana jika mata kuliah etnomatematika ini dipelajari oleh mahasiswa S1 pendidikan matematika USD, apakah prosesnya sama dengan perkuliahan yang pernah saya lewati pada S2 ataukah berbeda. Selain itu, saya ingin memperdalam pengetahuan dan kemampuan saya dalam bidang etnomatematika. Selama melaksanakan kegiatan praktik pembelajaran untuk mata kuliah etnomatematika, saya didampingi oleh seorang dosen pembimbing. Beliau menjelaskan bahwa perkuliahan etnomatematika yang diampu akan menghasilkan luaran berupa artikel ilmiah di bidang etnomatematika.

Continue reading Praktik Pengajaran Etnomatematika Sebagai Proses Pendewasaan Diri Menuju Pendidik yang Profesional

Bisa Tidak Ya Memperkirakan Tabungan Di Masa Depan?

Jumlah tabungan dengan setoran reguler dan bunga majemuk tertentu dapat dihitung dengan menggunakan rumus anuitas.


Menabung merupakan kegiatan menyisihkan sebagian uang untuk disimpan. Biasanya kegiatan ini sudah diajarkan oleh orang tua kepada anaknya sejak kecil. Salah satu tujuannya adalah mengajarkan anak untuk mengatur keuangan. Menabung dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan cara tradisional dan cara modern. Menabung secara tradisional dilakukan dengan menyimpan di dalam celengan, sedangkan menabung secara modern dilakukan dengan menyimpan uang di bank. Namun saat ini sebagian besar orang lebih memilih menabung di bank dengan alasan keamanan. Selain itu, bank juga memberikan keuntungan berupa bunga kepada nasabahnya.

Menabung di bank sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia kurang memahami tentang sistem pengelolaan tabungan di bank, misalnya dalam perhitungan bunga tabungan. Perhitungan bunga tabungan ini tentu sangat penting untuk diketahui. Salah satu kegunaannya adalah untuk memperkirakan tabungan sebagai perencanaan keuangan agar dapat menghadapi kebutuhan keuangan pada masa mendatang, misalnya untuk membeli sesuatu, biaya kuliah, biaya menikah, dan lain-lain.

Mengacu pada pemaparan sebelumnya, dalam artikel ini kami akan membahas topik mengenai cara memperkirakan jumlah tabungan dengan menerapkan perhitungan matematika yaitu dengan konsep fungsi eksponensial dan fungsi logaritma. Dengan demikian, kami memilih rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah cara memperkirakan jumlah tabungan pada tahun tertentu jika diketahui bunga majemuk pertahunnya dan jumlah setoran pada periode tertentu?
  2. Bagaimanakah cara memperkirakan lamanya waktu menabung jika menginginkan tabungan dalam jumlah tertentu dengan diketahui bunga majemuk pertahunnya dan jumlah setoran pada periode tertentu?
Continue reading Bisa Tidak Ya Memperkirakan Tabungan Di Masa Depan?

Menuju Pengajar yang Giat, Kreatif, dan Inovatif: Refleksi Pengajaran Aljabar dan Trigonometri

Persiapan media pembelajaran penting untuk menunjang tercapainya pembelajaran yang informatif, komunikatif, dan inovatif.

Anung Wicaksono 2 Januari 2020

Foto bersama Aljabar dan Trigonometri

Praktik pengajaran yang akan saya bagikan di sini adalah praktik pengajaran mata kuliah Aljabar dan Trigonometri di kelas B. Pada kesempatan itu praktikan berkesempatan untuk mengikuti perkuliahan dan juga memberi pengajaran seperti halnya mengajar sebagai dosen mata kuliah Aljabar dan Trigonometri dengan dua kali kesempatan pengajaran yang dinilai. Saat itu praktikan memilih untuk mengajarkan materi polinomial, yang secara spesifik mengajarkan karakteristik polinomial dan operasi-operasi polinomial tersebut, seperti pembagian dengan cara bersusun, metode Horner, teorema faktor, dan teorema sisa.

Pertemuan pertama membahas karakteristik bentuk-bentuk polinomial berderajat genap ataupun ganjil. Pada pertemuan ini pengajaran difokuskan agar mahasiswa mampu mensketsa grafik fungsi polinomial dengan derajat ganjil dan derajat genap. Pertemuan kedua mencakup empat metode yang sudah dijelaskan, hal ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat menyelesaikan berbagai permasalahan polinomial.

Continue reading Menuju Pengajar yang Giat, Kreatif, dan Inovatif: Refleksi Pengajaran Aljabar dan Trigonometri